Hari istimewa memang terkadang tidak diawali dengan hal istimewa, bahkan terkesan biasa seperti tadi pagi. Teman-teman yang sudah menunggu kedatanganku untuk datang menghadiri acara muktamar CIS. Tapi bagaimana lagi, aku bangun "kesiangan" karena keasikan ngerjain tugas yang sebenarnya bisa dilakukan di sela-sela sidang. Akhirnya teman-teman memaklumi tindakanku yang tidak benar ini.
Tidak terasa agenda muktamar telah sampai pada acara penentuan formatur. Akhirnya keluar namaku bersama 1 cowok dan 3 cewek. Akhirnya kami disuruh keluar dari forum untuk memusyawarahkan tentang siapa yang nantinya akan menjadi ketua formatur sekaligus menjadi ketua umum baru. Diantara kami berlima, 2 memilih seniorku yang menjadi ketua umum sebelumnya dan 2 lagi mencalonkanku sebagai ketua umum baru. Disinilah aku mulai merasa bingung. Memilih antara membiarkan seniorku memimpin 1 kepengurusan lagi atau diriku ini yang masih dibilang kurang pantas untuk memimpin? ...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... akhirnya aku berbicara "saya memilih diri saya sendiri untuk menjadi ketua umum CIS 2015". Entah pikiran apa yang terlintas ketika diriku berbicara itu dan aku sudah tidak memperdulikan pendapat orang lain. Tapi satu hal yang bisa kuungkapkan adalah karena seniorku ini sudah pernah menjadi ketum di kepengurusan sebelumnya dan mungkin hati kecilnya mengatakan bahwa dia ingin kembali fokus kuliah untuk bisa menyelesaikan studinya. Maka dari itu diriku sebagai mungkin satu-satunya cowok yang pantas mengajukan diri sebagai ketum.
Sebenarnya peristiwa ini sudah ku persiapkan jauh-jauh hari. Bahkan aku sampai ditolak oleh temanku untuk melanjutkan kepengurusan di organisasi lain karena dia ingin aku fokus untuk mengabdi pada organisasi ini. Akhirnya diriku terpilih sebagai ketua formatur sekaligus menjadi ketua umum CIS 2015 dan telah disepakati dengan konsideran muktamar dengan ketukan palu sidang sebanyak 3 kali. Alhamdulillah, kata pertama yang terlintas di pikiranku. Tapi tidak kusadari bahwa ada temanku yang sampai meneteskan air mata bukan karena tidak terpilih sebagai ketua formatur tapi ia takut kalau nantinya di kepengurusan ini, organisasi yang kupimpin tidak lebih baik dari kepengurusan sebelumnya. Akhirnya dengan perasaan lapang dada, ia bisa tersenyum kembali selagi mengingatkanku untuk merubah sikapku yang kurang baik menjadi lebih baik.
Pada sambutan, aku mengungkapkan bahwa aku ini orangnya hiperaktif dan impulsif. Memang aneh ketika sambutan, seseorang mengungkapkan sifat buruknya di depan orang lain. Tapi bagiku itu tidak masalah, yang penting semua sudah tau dan harapannya bisa saling mengingatkan dalam kebaikan. Aku juga mengharapkan bantuan dari teman teman pengurus baru karena aku tidak bisa membangun organisasi menjadi lebih baik tanpa bantuan dari pengurus. Seperti dalam shalat berjamaah, berjuang bersama lebih baik daripada berjuang sendiri.
Setelah acara muktamar CIS ditutup, ada beberapa sms masuk ke ponselku yang isinya tentang ucapan selamat atas terpilihnya sebagai ketua umum, dilanjutkan dengan harapan mereka kepadaku untuk mengembah amanah sebagai pengemban dakwah.
Jadi untuk seluruh pengurus CIS 2015 yang membaca cerita ini, saya mohon bantuannya karena ketuamu ini masih harus belajar banyak dari kalian untuk menjadi pemimpin yang baik.
Terima kasih
-intermeso-
Setelah kurenungkan, ternyata menjadi seorang ketum (ketua umum) dalam artian pemimpin bukanlah perkara mudah dan bisa dibanggakan karena menjadi ketum berarti harus bertanggung jawab terhadap anggotanya. Syukur syukur kalau anggotanya melakukan tindakan baik. Kalau pas anggotanya membuat masalah, maka ujung ujungnya yang dimintai pertanggungjawaban pasti ketumnya. Ketum juga harus bisa jaga sikap. Ada saatnya boleh bergurau tapi harus sering menampakkan wibawanya sebagai ketum. Harus bisa membimbing anggotanya kalo ada yang salah. Serba repot dah..,
Tapi anehnya ketika aku membandingkan kepemimpinan di organisasi kampus dengan wakil rakyat di tingkat negara, jauh banget dari namanya pemimpin. Soalnya sejauh pengamatanku yang beredar di media massa (ga pernah wawancara langsung), wakil rakyat dianggap hanya bisa menikmati fasilitas negara dari pajak rakyat, leyeh leyeh, tidak menyampaikan aspirasi rakyat dengan benar, dan sederetan ungkapan buruk lainnya. Maka tidak salah ketika ada sebagian orang menyebut wakil rakyat sebagai perampok uang rakyat. Padahal saat mereka melakukan kampanye kepada rakyak, bilangnya ingin menyejahterahkan rakyak, menurunkan harga sembako, memperbaiki fasilitas, dan janji lainnya sampai sampai harus melakukan politic money kepada rakyat agar mereka mau memilihnya.
Aku jadi ingat tentang penampilan Abdur pada acara SUCI 4 yang mengatakan bahwa wakil rakyat sudah GILA sejak awal. Mengapa? karena mereka mempertaruhkan seluruh harta mereka hanya untuk mendapatkan kursi DPR dimana peluang mereka untuk menang < 10%. Ya kalo menang, kalau kalah, sudah dipastikan mereka menjadi GILA. Lagian mereka tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada diri mereka setelah mereka meninggal dunia atau setidak-tidaknya setelah lengser dari DPR, apa yang nantinya mereka pertanggungjawabkan kepada rakyat? mau bilang kalo hidup di DPR hanya tidur doang? ya siap-siap di begal nanti.
Intinya adalah ketika kita mendapatkan jabatan, maka jangan jadikan jabatan sebagai kebanggaan, tapi sebagai amanah yang harus dilaksanakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar