Minggu, 01 Februari 2015

Mikir pake dengkul, otak, atau hati?

Bismillah...

"mangkanya kalo mikir itu pake otak, jangan pak dengkul", "gini nih kalo mikir pake otak, gagalah presentasi kita", "berpikirlah pakai hati jangan pake otak dalam menyelesaikan masalah batin".

Itulah beberapa umpatan yang keluar dari mulut seseorang ketika memperingatkan temannya. Berpikir pakai dengkullah, otaklah, pakai hatilah, semuanya sama saja. Menuntut kita untuk berpikir. Tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membedakan antara berpikir dengan 3 organ yang saya sebutkan.

Pertama, berpikir pakai dengkul. Mungkin ini indikasi kalau ia lebih memilih untuk bertindak duluan daripada berpikir. Bisa kita contohkan ketika kita berjalan di atas pasir pantai di siang bolong tanpa alas kaki. Seketika itu orang pasti berlari dengan merasakan panas. Ga mungkin dong dia akan berpikir, "koq panas ya kakiku, enaknya lari atau gimana ya?" kalo ada teman anda seperti itu, langsung rujuk teman anda ke spesialis otak. Mungkin ada yang bermasalah dengan otaknya :v

Kedua, berpikir pakai otak. Situasi ini mendukung ketika kita sedang mengerjakan soal ujian, berbicara dalam lomba cerdas cermat, atau kegiatan yang menuntut kita untuk berpikir. Saat seperti ini, seseorang akan berpikir terlebih dahulu daripada bertindak.

Ketiga, berpikir dengan hati. Ini hal yang sulit untuk dijelaskan. Karena berpikir disini berarti berkaitan dengan perasaan. Bisa saja ketika seseorang sedang menonton film mengharukan, ada saja yang langsung meneteskan air mata. Bukan karena cengeng, tapi memang film yang mengharukan itu bisa menggetarkan hati kita. Bila ada teman anda tidak meneteskan air mata saat menonton firm mengharuskan, berarti ada kemungkinan hati teman anda sudah keras.

Tapi dari ketiga pendapat barusan, sebenarnya kita berpikir dengan otak. Tidak peduli bagaimana situasi yang sedang dijalani. Kita bisa melihat bagian bagian otak. Ada otak besar yang dibagi menjadi otak kanan dan otak kiri, otak kecil, batang otak, sistem limbik.

Bila ditarik secara garis besar, otak besar berfungsi untuk berfikir, otak kecil berfungsi untuk koordinasi tubuh seperti cara berjalan, batang otak berfungsi untuk mengatur fungsi dasar organ manusia seperti detakan jantung, sistem limbik berfungsi untuk menghasilkan perasaan. Intinya semua tindakan yang kita lakukan, dikendalikan. Berpikir pakai dengkul berarti sebenarnya menggunakan dengan otak kecil dan batang otak. Berpikir dengan otak berati menggunakan otak besar, sedangkan berpikir dengan hati berarti menggunakan batang otak dan sistem limbik.

Tapi selalu ada perdebatan tentang berpikir pakai otak dengan berpikir pakai hati. Karena setiap kejadian di sekitar kita, seperti dimarahi, melihat hal mengharukan, marah, senang, maka dada terasa sesak dan jantung berdegup kencang. Sebenarnya jantung juga dihubungkan dengan otak melalui sel saraf. Berarti ketika orang menerima respon dari luar, maka respon akan diterima dan diproses di otak, lalu dikirim ke jantung untuk melakukan tindakan. Hanya saja karena jantung adalah organ dalam dan penyusunnya adalah jaringan polos, maka kita tidak merasakan. Paling paling yang kita rasakan hanya rasa sesak dan jantung berdetak kencang. Seolah olah jantung memiliki pemikiran sendiri.

Hal yang juga perlu diperhatikan, bahwa perasaan orang tersimpan dalam otak, bukan jantung atau hati seperti yang dipikirkan banyak orang. Emang ada ketika orang mencangkokkan hati atau jantungnya ke orang lain, kemudian orang resipien berubah sifat seperti sifat pendonornya? Tidak mungkin terjadi. Karena sifat dan perasaan seseorang terletak di otaknya. Tepatnya di sistem limbik dan batang otak.

Jadi, kesimpulannya adalah semua tindakan kita diatur oleh otak kita. Maka kita perlu bersyukur kepada Allah Maha Pemberi karena memberi organ yang bisa mengkoordinasikan seluruh bagian tubuh kita dan menyingkronkan dengan perasaan adan tindakan kita. Oleh karena itu, gunakan pemikiran kita untuk hal hal yang bermanfaat. OK!

YES, WE CAN!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar